Thursday, September 13, 2012

Kisah Ghulam

Dari Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, ‘Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku telah dekat. Karena itu, utuslah kepadaku seorang anak muda agar aku ajari sihir’. Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian ia ajari sihir. Dan jalan antara raja dengan tukang sihir itu terdapat seorang rahib. 

Pemuda itu mendatangi sang rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Sang pemuda begitu kagum kepada rahib dan pembicaraannya. Begitu ia sampai kepada tukang sihir karena terlambat serta merta ia dipukulnya seraya ditanya, ‘Apa yang menghalangimu?’ Dan bila sampai di rumahnya, keluarganya memukulnya seraya bertanya, ‘Apa yang menghalangimu (sehingga terlambat pulang)?’ Lalu, ia pun mengadukan halnya kepada sang rahib. Rahib berkata, ‘Jika tukang sihir ingin memukulmu katakanlah, aku terlambat karena keluargaku. Dan jika keluargamu hendak memukulmu maka katakanlah, aku terlambat karena (belajar dengan) tukang sihir’.

 Suatu kali, ia menyaksikan binatang besar dan menakutkan yang menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak bisa menyeberang. Maka sang pemuda berkata, ‘Saat ini aku akan mengetahui, apakah perintah ahli sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib. Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada perintah tukang sihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia bisa menyeberang’. Lalu ia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh kemudian ia pergi. Maka ia beritahukan halnya kepada rahib. Lalu sang rahib berkata, ‘Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku. 

Selanjutnya, pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya. Alkisah, ada pejabat raja yang tiba-tiba buta. Ia mendengar tentang pemuda itu. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, ‘Sembuhkanlah aku, dan engkau boleh memiliki semua ini! Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak bisa menyembuhkan seseorang. Yang bisa menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla. Jika Anda beriman kepada Allah dan berdo’a kepadaNya, niscaya Ia akan menyembuhkanmu. Ia lalu beriman dan berdo’a kepada Allah dan sembuh. Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. 

Sang raja bertanya, ‘Wahai fulan, siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku’. Raja berkata, ‘Saya?’ ‘Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’, tegasnya. Raja bertanya, ‘Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’. Demikianlah, sehingga ia terus-menerus disiksa sampai ia menunjukkan kepada sang pemuda. Pemuda itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya’. Sang pemuda menangkis, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Raja berkata, ‘Aku?’ ‘Tidak!’, kata pemuda. ‘Apakah kamu punya Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’. 

Lalu ia pun terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib. Maka rahib itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada pejabat raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada sang pemuda juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu bersama beberapa orang ia dikirim ke gu-nung ini dan itu. (Sebelumnya) sang raja berpetuah, ‘Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka bila ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia! Mereka pun berangkat. Ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu. Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga se-muanya tergelincir. 

Lalu sang pemuda datang mencari sampai bisa bertemu raja kembali. Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’ Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’. Kembali ia dikirim bersama beberapa orang dalam sebuah perahu kecil. Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan (maka biarkanlah ia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut yang luas dan dalam’. Sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu’. Akhirnya mereka semua tenggelam dan sang pemuda datang lagi kepada raja. Sang raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’ Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’. Lalu sang pemuda berkata, ‘Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan maka engkau akan bisa membunuhku. 

Jika tidak, engkau tak akan bisa membunuhku’. Raja penasaran, ‘Perintah apa?’ Sang pemuda menjawab, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari wadah panahku, lalu ucapkan, ‘Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah, Tuhan sang pemuda). Maka (raja memanahnya) dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang kena panah lalu meninggal dunia. Maka orang-orang berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tahukah Anda, sesuatu yang selama ini Anda takut-kan? Kini sesuatu itu telah tiba, semua orang telah beriman. Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Dan raja pun bertitah, ‘Siapa yang kembali kepada agama-nya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka lemparkanlah dia ke dalamnya’.

 Maka orang-orang pun menolaknya sehingga mereka bergantian dilemparkan ke dalamnya. Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Tiba-tiba sang bayi berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”

 (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 6/16-18, Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah. Dan An-Nasa’i serta Hammad bin Zaid menambahkan, yang keduanya dari Tsabit. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Abdurrazak dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanad darinya. Ibnu Ishaq memasukkannya dalam Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At-Tamir).

Sunday, September 2, 2012

Kejayaan Manusia

Kita adalah ashraful makhluqat. Kita adalah hamba Allah, Makhluk Allah SWT yang paling mulia di kalangan seluruh makhluk Allah SWT dan Allah SWT telah ciptakan 18 000 jenis makhluk. 1/4 adalah dari kalangan makhluk ini hidup di atas daratan, dan 3/4 lagi di dalam lautan. Daripada semua makhluk ini Allah SWT telah ciptakan kita "Manusia" paling mulia sekali oleh kerana itu Allah SWT tidak hantar kita sia-sia.

  Maka Allah SWT sendiri tanya dalam Al-Quran. "Wahai Hamba-hambaku adakah kamu menyangka, adakah kamu berkira'kira bahawa aku hantar kamu di atas muka bumi sia-sia? untuk habiskan kehidupan macam itu sahaja? dan kamu jugak menyangka bahawa kamu semua tidak akan kembali kepada kami? 

 Afahasibtum annama khalaqnakum Aabathan waannakum ilayna la turjaAAoona (al-Mu'minuun: ayat 115)

 Ini pertanyaan Allah SWT pada kita semua. Allah SWT hantar kita di atas bumi ini untuk bina kehidupan kita dan Allah yang sebenarnya yang membina kehidupan kita Allah SWT dan Allah SWT akan buat keputusan untuk bina kehidupan kita apabila kita memenuhi kehendak-kehendak Allah SWT, apabila kita ikut agama Allah SWT. 

 Satu orang yang hidup dalam sebuah pondok atau satu orang yang hidup di dalam banglow. Apabila dia ikut kehendak Allah SWT maka Allah akan bina kehidupan dia. Satu orang buruh kasar tetapi dia ikut kehendak Allah swt ikut agama Allah SWT maka Allah SWT akan bina kehidupan dia. Undang-undang disisi Allah SWT untuk bina kehidupan manusia bukanlah berdasarkan pangkat bukanlah berdasarkan harta bukanlah berdasarkan apa-apa benda dunia. Sebaliknya ketetapan Allah SWT undang2 Allah SWT dalam bina kehidupan Manusia adalah dalam agama Allah SWT. 

Maka siapa yang ikut kehendak Allah SWT ikut agama Allah SWT maka Allah SWT akan bina kehidupan dia. yang menjadi ketetapan Allah yang menjadi asas kehidupan adalah hanya dalam agama Allah SWT. Allah SWT tidak pernah pun tetapkan kejayaan manusia dalam benda-benda dunia tetapi Allah SWT letakkan kejayaan manusia hanyalah dalam Agama Allah SWT. Jika menjadi ketetapan/ penilaian Allah SWT untuk bagi kejayaan ialah harta, pangkat, emas, perak, makanan yang mewah, rumah yang besar, kenderaan yang mewah ini semua menjadi penilaian Allah SWT untuk bagi kejayaan maka tidak ada orang lain yang lebih berhaq daripada mendapat perkara-perkara ini lebih daripada Muhammad SAW. kerana Muhammad SAW hanyalah satu-satunya hamba Allah SWT yang kalau tidak kerana baginda seluruh alam ini tidak ciptakan, Alam ini tidak akan ada.

 Seluruh Alam ini diciptakan kerana berkat Muhammad SAW maka bagindalah yang berhaq daripada semua makhluk Allah SWT. Tetapi benda-benda dunia ini tidak ada kejayaan sedikitpun. Jika benda dunia ini ada kejayaan maka, rumah yang besar, kenderaan yang mewah makanan yang mewah akan bersama Muhammad SAW di madinah. Jika semua ini ada kejayaan semua ini akan bersama dengan Muhammad SAW kerana baginda lebih berhaq. Tetapi oleh kerana benda-benda ini tidak ada kejayaan maka kita sudah pun tahu lembaran kehidupan Nabi Muhammad SAW yang zuhud.

Tuesday, June 12, 2012

Nur Fansuri

'*Bismillah hirRahman nirRahim*' [In the name of Allah most Gracious Most Merciful]

 Alhamdulillah, Syukur ke atas Allah SWT yang memberikan kelapangan ke atas diri ini untuk sekali lagi berbait-bait dengan kata-kata hati yang tidaklah mampu menarik hati mana-mana insan tanpa izin Allah SWT. Dan ingin saya kongsikan pada semua yang membaca tentang rasa yang tersirat di dalam hati ini. Seperti yang saudara/saudari sedar bahawa post kali ini bertajuk Nur Fansuri.

 Apakah Nur Fansuri?..

Mengapa Nur Fansuri?..

 Maka post saya kali ini Insya-Allah akan menjawab segala persoalan saudara/saudari kali ini.


   Nur Fansuri adalah merupakan satu gelaran yang di gunakan oleh seorang anak muda dalam usahanya mengubah pendirian, pemikiran, akhlak dan juga kefahaman anak-anak muda kepada yang lebih baik dengan menerapkan nilai-nilai Islam kedalam hati sanubari dan pemikiran anak muda melalui hasil tulisan risalah-risalah yang diedarkan di sebuah Institut pendidikan tinggi awam. Beliau merupakan seorang anak tunggal yang telah di terapkan dengan didikan agama yang secukupnya oleh kedua orang tuanya.


   Nur fansuri bukan seorang pujangga yang hebat jika ingin di bandingkan dengan pujangga-pujangga islam yang sentiasa bermadah atas kemaslahatan Ummah. Tetapi kerana kekaguman beliau ke atas setiap Pujangga Islam dan jugak hasil karya mereka maka Nur Fansuri telah mengorak langkah dalam menulis risalah-risalah kecil yang di edar di pusat pengajian beliau. Kerana risau dan fikir beliau yang sedih melihat kemaslahatan anak-anak muda terutama sekali di kalangan remaja yang semakin lalai dan jauh dari agama kerana dek di buai khayalan dunia yang bermain-main di mata zahir mereka. Kerana atas fikir ini Nur Fansuri memberanikan dirinya untuk mengubah pemikiran anak muda dengan merangkap syair-syair yang bermadah yang mampu menitis ribuan mata anak-anak muda ketika itu. Di setiap karangan beliau hanyalah tertulis Nur Fansuri ianya tidak bersertakan nama sebenarnya kerana memang niatnya adalah semata-mata kerana ALLAH SWT.

   Kerana madah syairnya yang begitu mendalam dan telah berjaya menusuk qalbu ribuan pelajar-pelajar muda di Pusat pengajiannya maka usaha mencari insan yang hanya di kenali sebagai Nur Fansuri ini di adakan di pusat pendidikan akan tetapi setiap usaha mencarinya menemui kegagalan kerana doa Anak Muda yang di gelar Nur Fansuri ini yang meminta kepada Allah SWT agar identitinya selamat dari pengatahuan orang ramai. Hanya segelintir sahaja yang mengetahui identiti sebenar Nur Fansuri di atas kepercayaan Nur Fansuri yang utuh kepada mereka untuk merahsiakannya. Bila tamat sahaja pengajian beliau di pusat pendidikan itu Nur Fansuri telah meninggalkan legasi yang menjadi ikutan ramai anak-anak muda yang menyambung usaha dakwahnya melalui bait kata-kata pujangga.

   Maka Sudah selesai pengenalan nur Fansuri kepada saudara/saudari. Sekarang saya menulis post ini kerana saya ingin menjadi seperti beliau agar legasinya menjadi legasi saya Insya Allah. Kerana budi pekerti yang ada pada dirinya membuatkan diri saya yang jahil, dhoif lagi hina ini ingin mengambil peluang yang ada ini untuk meneruskan perjuangan seorang kawan yang telah meninggalkan legasi buat semua anak muda terutama sekali dari kalangan remaja untuk mengorak langkah di atas kemajuan Iman dan Amal yang soleh.

Saya amat kagum dengan semangat yang ada pada Nur Fansuri, walaupun beliau juga jatuh cinta kepada kerana fitrah manusia yang tidak lari dari cinta tetapi itu bukan menjadi penghalangnya untuk terus maju dalam merangkap syair untuk tatapan anak-anak muda. Walaupun Nur Fansuri telah jatuh cinta tetapi dengan hati yang kental dan kuat beliau tidak ingin melayan perasaan yang hinggap di sanubari seorang lelaki kerana baginya jika benar dia adalah jodohnya yang akan menemannya di dalam perjuangannya maka itu adalah ketetapan Allah SWT dan jika sebaliknya itu juga adalah ketetapan Allah SWT dan hanya keredhaanNya sahaja yang di mintanya. Kerana jazbah (semangat) yang tinggi untuk memelihara ikhtilat dengan wanita yang di kasihinya maka Nur Fansuri telah berusaha untuk menjauhkan dirinya daripada wanita itu dengan hemah selagi mana  tidak ada ikatan yang sah. Kerana usahanya dalam menjaga dirinya dan juga demi menghormati haq seorang wanita maka dengan ketetapan Allah SWT maka mereka telah menjadi suami Isteri yang sah di Ijab Qabulkan ini menunjukkkan walaupun tidak ada usaha dalam memenangi hati wanita itu tetapi akhirnya mereka telah di satukan kerana keperihatinan Nur Fansuri dalam menjaga hatinya agar tidak tertipu oleh bisikan syaitan. Benar Jika benar cinta maka usahakanlah tetapi usahakanlah untuk mantapkan Iman dan Amal.



 Benarlah satu pepatah Arab yang berbunyi: 

 "مَنْ جَدَّ وَجَدَ,مَنْ زَرَعَ حَصَدَ,مَنْ يَجْتَهِدْ يَنْجَحْ"

 ‎"Man jadda wajada, wa man zara’a hasoda, wa man yajtahid yanjah

 " yang membawa maksud:

 مَنْ جَدَّ وَجَدَ - Man jadda wajada bermakna "Sesiapa yang berusaha (InsyaAllah) akan mendapat apa yang diusahakannya".

 .. مَنْ زَرَعَ حَصَدَ - Man zara'a hasada pula bermaksud "Sesiapa yang bercucuk tanam (InsyaAllah) akan menuai hasilnya.

" مَنْ يَجْتَهِدْ يَنْجَحْ - Man yajtahid yanjah pula bererti "Sesiapa yang berusaha (InsyaAllah) akan beroleh kejayaan."


Sunday, April 22, 2012

Kemunduran ummat Dan penyelesaainnya bahagian 1

Sewaktu dunia sedang tenggelam dalam kegelapan kekufuran, kesesatan dan kejahilan, telah zahir sinar hidayat dan petunjuk dari bukit-bukit gersang Batha (di kota Mekah) lalu menyinari timur dan barat, utara dan selatan. Pendek kata seluruh penjuru dunia telah di sinari dengan cahayanya. Dalam tempoh yang singkat (23 tahun) kelompk manusia telah di bawa ke satu puncak kemajuan sehingga sejarah dunia tidak mampu untuk mendatangkan contoh seumpamanya. Di tangan orang islam (pada zaman itu) telah diberikan cahaya petunjuk dan hidayat serta kebaikan dan kejayaan. Dengan sinar cahaya ini mereka sentiasa bergerak laju di landasan kemajuan dan berkurun-kurun lamanya mereka dapat memerintah dunia dengan gilang-gemilang sehingga setiap kekuatan yang cuba menentang terpaksa menerima kehancuran. Perkara ini adalah satu hakikat yang tidak mungkin dapat di sangkal tetapi kemudiannya kisah-kisah sejarah tersebut diulang berkali-kali pun, ini masih tidak dapat menenangkan jiwa sedikit pun dan tidak ada gunanya serta tidak berfaedah kerana peristiwa-peristiwa dan perkara-perkara yang dapat disaksikan dewasa ini sendiri telah menconteng arang kepada kehidupan orang Islam dan merosakkan usaha-usaha cemerlang salafoussolehin (sahabat-sahabat Rasulullah, para ulama' dan orang soleh pada zaman dahulu) kita yang lalu.


Apabila kia melihat kembali lembaran-lembaran sejarah kehidupan orang Islam selama 1432 tahun yang lalu maka dapat di ketahui bahawa orang Islam adalah pemilik tunggal kemuliaan, keagungan, kegemilangan, kebesaran dan kehebatan. Walau bagaimanapun, apabila kita mengalihkan pandangan daripada lembaran-lembaran tersebut dan cuba memerhatikan keadaan orang Islam dewasa ini maka kita akan namapak bahawa kita berada dalam keadaan yang sangat hina, lemah dan tidak mengetahui apa-apa, tanpa kekuatan dan kehebatan, tanpa harta dan benda, tanpa ketinggian dan kemuliaan, tiada lagi perasaan persaudaraan dan kemesraan. Perangai dan budi pekerti kita tidak baik, akhlak juga tidak baik, amal-amal pun tidak baik malah perwatakan pun tidak lagi baik. Segala keburukan wujud pada kita dan diri kite tersangat jauh daripada segala kebaikan. 


 Orang asing (bukan islam) bergembira melihat kita dalam kedaan yang serba lemah ini. Mereka mengheboh-hebohkan kelemahan-kelemahan kita malah mereka mentertawakan kita. Keadaan ni tidak berhenti setakat itu sahaja bahkan pemuda-pemudi yang kita sayangi yang tergila-gilakan budaya moden telah mempersenda-sendakan prinsisp-prinsip agama kita yang suci. Mereka mengkritik setiap amalan agama sehingga mereka berkata bahawa syariat yang suci ini tidak lagi sesuai untuk di amalkan. Syariat-syariat ini adalah sia-sia dan tidak berguna lagi pada pandangan mereka. 


 Sungguh menghairankan, satu kaum yang dahulunya telah menyirami dunia, mengapa pula pada hari ini mereka sendiri kedahagaan? Kaum yang dahulunya pernah mengajar dunia dengan tamadun dan peraturan hidup, mengapa pada hari ini mereka sendiri hidup tanpa tamadun dan peraturan? Pemimpin-pemimpin di kalangan umat telah memikirkan keadaan yang lemah ini sejak dahulu lagi dan telah mengusahakan berbagai-bagai cara untuk memperbaikinya tetapi sebagaimana seorang punjangga urdu bermadah: 


 "Semakin diubati, penyakit semakin brtambah". nantikan sambungannya pada baagian ke-dua

Monday, March 5, 2012

KISAH PEPRANGAN MAUTAH, SYAHIDNYA ZAID BIN HARITHAH ra BAPAK KEPADA USAMAH BIN ZAID ra

Kisah Perang Mautah

Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallam biasa mengirim surat kepada para raja untuk berdakwah dan bertabligh kepada mereka. Salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra. Ketika sampai di Mautah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu. Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi peniimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja'far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya".

Seorang Yahudi, ketika mendengar perkataan ini berkata, "Ketiga orang sahabat yang telah ditunjuk sebagai amir tersebut pasti akan mati. Anbiya AS. pun, dahulu telah mengucapkan kata-kata yang demikian". Kemudian Rasulullah SAW memberikan bendera berwarna putih epada Zaid bin Haritsah ra. Beliau sendiri ikut mengantar rombongan untuk melepas mereka. Di luar kota, ketika orang-orang yang mengantarkan pasukan tersebut akan kembali, maka beliau berdoa untuk para mujahidin ini dengan doa keselamatan, kejayaan, dan agar mereka dijauhkan dari semua perkara yang buruk sampai mereka kembali.


Do'a Rasulullah SAW ini dijawab oleh Abdullah bin Rawahah ra. dengan membaca tiga bait syair yang maksudnya:

Engkau meminta ampunan dari Tuhanmu.
Sedangkan kami menginginkan pedang yang akan memutuskan pembuluh-pembuluh darah atau tombak yang akan menusuk lambung dan hatiku
Jika nanti, orang-orang melewati kuburan kami, mereka akan berkata:
Inilah orang-orang yang telah berjuang untuk Allah. Sungguh, kalian betul-betul telah mendapat petunjuk dan kejayaan

Setelah itu, berangkatlah pasukan tersebut. Syarahbil pun telah mendengar tentang keberangkatan pasukan ini. Dia telah menyiapkan pasukan sebanyak seratus ribu tentara untuk melawan kaum muslimin. Dalam pada itu, para sahabat r.ahum. juga telah mendengar kabar bahwa Heraclius, raja Romawi, juga telah mengirim seratus ribu tentaranya untuk ikut menyerang kaum muslimin. Maka dengan jumlah musuh yang demikian banyak tersebut membuat sebagian sahabat ra. menjadi ragu: meneruskan bertempur melawan musuh, ataukah memberitahukan kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Rawahah ra. berkata,

"Hai orang-orang. Apa yang kalian takuti?
Untuk apa kalian keluar meninggalkan Romawiah kalian?
Apakah kalian keluar ini bukan untuk mati syahid?
Kami adalah orang-orang yang tidak memperhitungkan kekuatan ataupun banyaknya orang dalam pertempuran.
Kami hanya berperang agar di suatu hari nanti, Allah s.wt. memuliakan kita.
Majulah. Setidaknya salah satu di antara dua kemenangan mesti kita dapatkan. Mati syahid, atau menang dalam pertempuran ini".

Mendengar kata-kata tersebut, semangat kaum muslimin pun bangkit kembali. Mereka terus maju sehingga sampailah pasukan tersebut di Mut'ah dan mulailah pertempuran berlangsung antara mereka dengan pasukan musuh. Dalam permulaan pertempuran, bendera dibawa oleh Zaid bin Haritsah ra. Dengan bendera di tangan, ia telah menyerang ke tengah Pertempuran. Mulailah berlangsung pertempuran. Ketika itu saudara Syarahbil telah terbunuh sedangkan kawan-kawannya melarikan diri. Syarahbil sendiri telah lari ke sebuah benteng dan bersembunyi di dalamnya. Kemudian Raja Heraclius mengirimkan bala bantuan lagi kurang lebih sebanyak dua ratus ribu orang tentara. Pertempuran berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Akhirnya, Zaid ra. gugur syahid. Maka bendera kaum Muslimin segera diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib ra., setelah itu ia memotong kaki kudanya agar tidak berpikiran lagi untuk kembali. Sambil menyerang musuh, ia membaca beberapa bait syair yang terjemahannya sebagai berikut:

Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu
Dan surga itu sudah dekat
Betapa indahnya ia
Dan betapa sejuknya air surga
Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi
Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya

Setelah membaca syair tersebut, dipotonglah kaki kudanya dengan tangannya sendiri. Agar hatinya tidak berpikir untuk kembali. la menghunus pedangnya dan terjun ke tengah pertempuran melawan orang-orang kafir tersebut. Karena ia adalah pimpinan pasukan, maka bendera itu tetap berada di tangannya. Pada mulanya, bendera tersebut dipegang dengan tangan kanannya. Tetapi salah seorang pasukan kafir telah memenggal tangan kanannya sehingga bendera pun terjatuh. Maka bendera tersebut segera diambil dengan tangan kirinya. Tetapi, orang kafir itu telah memotong kembali tangan kirinya. Maka ia segera mendekap bendera itu di dada dengan kedua lengannya yang masih tersisa dan digigitnya bendera itu dengan sekuat tenaga. Kemudian, seorang musuh dari arah belakang menebasnya dengan pedang sehingga tubuhnya terpotong menjadi dua. Ia pun roboh ke tanah, dan gugur dalam keadaan syahid. Pada saat itu, Ja'far bin Abi Thalib ra. baru beRomawiur tiga puluh tiga tahun.

Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa setelah Jafar ra. menjadi mayat, ketika mayat tersebut diangkat, di bagian muka tubuhnya terdapat sembilan puluh buah luka. Ketika Ja'far bin Abi Thalib ra. telah mati syahid, maka orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah ra. Ketika itu, ia sedang berada di sebuah sudut dengan beberapa tentara muslimin, sedang memakan sepotong daging karena sudah tiga hari lamanya mereka tidak makan sesuatu pun. Mendengar suara yang memanggilnya, maka dilemparkanlah sisa daging itu. Ia berkata memarahi dirinya sendiri,

"Hai lihatlah, Ja'far telah syahid, sedangkan kamu masih sibuk dengan keduniaanmu".

Maka ia segera maju menyerang ke depan dan mengambil bendera kaum muslimin. Tetapi, jari tangannya telah terluka berlumuran darah dan terkulai hampir putus. Kemudian jari itu diinjak dengan kakinya sendiri lalu ditarik tangannya sehingga terpotonglah jarinya tersebut. Kemudian, jari yang sudah terputus itu ia lemparkan, kemudian ia maju kembali ke medan pertempuran. Dalam keadaan susah dan payah seperti ini, ia merasa sedikit ragu di dalam hatinya karena hampir tidak ada semangat dan kekuataan lagi untuk berperang. Tetapi, keraguan tersebut hanya terlintas sebentar saja dalam hatinya. Ia segera berkata pada dirinya sendiri,

"Wahai hati, apa yang masih kamu ragukan, apa yang menyebabkan kamu ragu-ragu? Istrikah? Ia sudah saya talak tiga. Atau hamba sahaya yang kamu miliki? Semuanya telah saya merdekakan. Ataukah kebun? Itu pun telah saya korbankan di jalan Allah".

Setelah itu, ia membaca syair berikut:

"Wahai hati, kamu harus turun Meskipun dengan senang hati, ataupun dengan berat hati Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga".

Setelah itu, ia turun dari kudanya. Seorang sepupunya, yaitu anak pamannya, telah memberi sekerat daging kepadanya sambil berkata, "Makanlah ini untuk meluruskan tulang punggungmu." Karena sudah berhari-hari ia tidak makan, maka daging tersebut diterimanya. Baru saja ia mengambil daging tersebut, terdengarlah suara kekalahan. Akhirnya, dilemparkanlah daging tersebut. Ia segera mengambil pedangnya dan menyerbu ke kancah pertempuran melawan orang-orang kafir. Ia terus bertempur hingga mati syahid.

Kisah Kehidupan para Sahabat
Kitab Fadhail 'Amal
Karanagn Syiekhul Hadits Hazrat Maulana Muhammad Zakariya Kandahlawi RAH

Ghuraba Nasheed remix by Turntoislam.com